Hari Kedua Asesmen Lapangan PPG UIKA Bogor
Bogor, Sabtu, 15 November 2025 — Hari kedua asesmen lapangan Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor berlangsung dengan lembaran narasi yang memotret denyut kualitas institusi. Sejak pukul 08.30 WIB, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UIKA hidup dengan ritme baru, ritme evaluasi, dan ritme pembuktian yang tegas.
Dipimpin oleh Prof. Dr. Wening Patmi Rahayu, S.Pd., MM., peninjauan sarana-prasarana dimulai dari ruang dekanat, ruang nakhoda FKIP, tempat seluruh arah akademik ditentukan. Dekan FKIP, Dr. Nanik Retnowati, M.Hum., menyambut para asesor dengan narasi jernih tentang visi ruang dan fasilitas. “Kami memastikan seluruh fasilitas di fakultas ini berada dalam kondisi optimal, agar mutu pembelajaran dapat terus meningkat,” ujar Dr. Nanik.
Asesor kemudian bergerak meninjau ruang Program Studi PPG, ruang dosen, serta ruang tata usaha dengan staf yang menunjukkan pelayanan ramah dan sigap. Di laboratorium microteaching, Prof. Wening terlihat memperhatikan detail fasilitas smart classroom yang mendukung simulasi pengajaran. “Ini ruang yang dirancang sangat fungsional, sudah selevel ruang microteaching modern,” komentarnya sambil memperhatikan beberapa hal teknis.
Salah satu momen paling mencuri perhatian adalah saat asesor mengobservasi pembelajaran yang dipandu dosen model, Amalul Umam, MA., TESL. Gaya mengajarnya yang atraktif membuat Prof. Wiyanto terkesan. “Pak Umam mengajar seperti dalang yang mampu menghidupkan kelas. Ada seni, ada struktur, ada ruh pedagogik di sana,” ungkapnya dengan nada penuh apresiasi. Suasana kelas yang besar justru memperlihatkan kepiawaian sang dosen dalam mengelola dinamika belajar.
Unit-unit layanan mahasiswa turut menjadi pusat perhatian. Unit Pelayanan Bahasa dengan fasilitas tes TOEFL, Student Center dan Unit Anti-Perundungan serta Kekerasan Seksual yang terpampang piagam penghargaan sebagai bukti rekam jejaknya, hingga Unit Layanan Mahasiswa Disabilitas yang beroperasi selama 24 jam. Di layanan mahasiswa disabilitas, Kepala Unit Maemunah, M.Pd., menyampaikan komitmen yang membuat asesor tertegun. “Kami buka 24 jam. Pendidikan tidak boleh tidur ketika ada mahasiswa yang membutuhkan,” tegasnya. Sementara di perpustakaan, para asesor terpukau oleh keteraturan dan kekayaan referensi ilmiah yang seolah menjadi “jantung literasi kampus” lengkap dengan ruang diskusi dan ruang belajar yang menghadirkan suasana reflektif di tengah hiruk pikuk akademik.
Kunjungan ke unit kesehatan menghadirkan momen unik ketika Prof. Wening yang merupakan pecinta taekwondo memeriksakan tekanan darahnya di tengah kegiatan mahasiswa yang sedang berlatih pertolongan pertama. Hasilnya normal dan sehat. Peninjauan ditutup dengan kekaguman pada asrama yang berada di kawasan Fakultas Kesehatan terkoneksi dengan Rumah Sakit Islam yang tertata rapi dan terawat dengan standar tinggi.
Pukul 14.00 WIB, penyampaian berita acara digelar. Dalam sesi ini, kedua asesor menyampaikan rekomendasi penuh. Dengan gaya akademisnya, Prof. Wiyanto menegaskan bahwa UIKA telah menunjukkan kualitas pembelajaran berbasis teknologi yang mengagumkan. “IT di sini tidak terbatas pada sarana, tapi cermin keterbukaan dan kejujuran akademik,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa keramahan sivitas UIKA “bukan basa-basi, tapi budaya akademik yang menghidupi mutu.”
Sementara itu, Prof. Wening memberikan refleksi atas hasil asesmen. Ia memaparkan bahwa UIKA memiliki kekhasan yang sulit ditiru institusi lain yakni integrasi keislaman dan teknologi. “UIKA ini unik. Keislamannya hidup dalam atmosfer civitas akademika, teknologinya tumbuh dalam sistem. Keduanya saling meneguhkan,” jelasnya. Ia pun mengapresiasi kelengkapan tata pamong, kualitas dosen, mutu sarpras, hingga kekuatan penelitian luar negeri. “Yang kami temukan di lapangan jauh lebih kaya dari yang tertulis. Ini sinyal bahwa budaya mutu benar-benar bekerja,” tambahnya.
Ketua Yayasan YPIKA, Dr. Didi Hilman, tampil dengan respon yang menggugah. Ia mengingatkan makna historis profesi guru. “Para pendiri UIKA selalu menempatkan guru di tempat tertinggi. Seperti kaisar Jepang yang pascaperang pertama kali menanyakan: ‘Berapa guru yang tersisa?’ Karena bangsa berdiri di atas kualitas pengajarnya,” tuturnya. Ia menegaskan dukungan penuh untuk FKIP sebagai garda depan pencetak guru berkualitas.
Rektor UIKA yang diwakili oleh Prof. Dr. Hj. Maemunah Sa'diyah, M.Ag., menyampaikan rasa terima kasih mendalam. “Masukan para asesor kami catat dengan tinta emas. Keunggulan tidak boleh hanya tertulis; ia harus mewujud dalam perilaku, budaya, dan pelayanan,” katanya. Beliau kemudian merujuk keteladanan Rasulullah SAW dalam mendidik tanpa kekerasan, menekankan bahwa UIKA akan terus berpegang pada etika pendidikan Islam.
Acara ditutup dengan doa yang dipimpin Wakil Rektor III, Dr. Hambari, M.A., Ph.D., memohon agar seluruh proses asesmen menjadi amal shaleh yang menghadirkan maslahat bagi dunia pendidikan.
Hari kedua asesmen lapangan ini menegaskan satu hal: UIKA Bogor bukan sekadar institusi, tetapi rumah besar ilmu yang merawat warisan keislaman, menghidupi inovasi, dan menyalakan obor masa depan pendidikan Indonesia. Dengan falsafah yang kokoh dan kualitas yang teruji, UIKA terus melangkah sebagai kampus yang benar-benar mengimplementasikan iman, ilmu, dan amal.

